Diantz blog


Berpacu menjadi yang terbaik

Laporan Praktikum Lapang Avertebrata Air Taman Nasional Baluran

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17508 pulau dengan panjang garis pantai 81000 km, memilki potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar (Bengen, 2001). Sumber daya alam yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan terdiri dari sumberdaya dapat pulih. (renewable resource) seperti perikanan hutan, mangrove, dan terumbu karang maupun sumberdaya yang tidak dapat pulih (non - renewable resource) seperti minyak bumi dan gas mineral serta jasa-jasa lingkungan (Dahuri et al.2001).

Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman hayati yang melimpah baik flora maupun fauna. Avertebrata berasal dari bahasa latin (A = tanpa, vertebrae = tulang belakang). Avertebrata air dapat di definisikan sebagai hewan hewan bertulang belakang, yang sebagian atau seluruh daur hidupnya hidup didalam air. ( Sri Subekti,dkk., 2011 ). Habitat hidup avertebrata air tersebar dari ekosistem air laut, ekosistem payau, air tawar dan bahkan pada ekosistem ekstrim seperti danau garam. Invertebrate mencakup 95% dar seluruh jenis hewan. Diantara kelompok invertebrate juga terdapat perbedaan-perbedaan.

Invertebrata atau Avertebrata adalah sebuah istilah yang diungkapkan oleh Chevalier de Lamarck untuk menunjuk hewan yang tidak memiliki tulang belakang serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung belakang. Dan sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Invertebrata mencakup semua hewan kecuali hewan vertebrata (pisces, reptil, amfibia, burung, dan mammalia.

Lamarck membagi invertebrata ke dalam dua kelompok yaitu Insecta (serangga) dan Vermes (cacing). Tapi sekarang, invertebrata diklasifikasikan ke dalam lebih dari 30 sub-fila mulai dari organisme yang simpel seperti porifera dan cacing pipih hingga organisme yang lebih kompleks seperti mollusca, echinodermata, dan arthropoda.

Untuk mempelajari Invertebrata, terlebih dahulu harus mengenal filum invertebrata, yaitu sebagai berikut : Protozoa, Porifera, Ceoelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Mollusca (kelas cephalopoda), Arthropoda (kelas crustacean), Echinodermata.

Yang melatar belakangi dilaksanakan Praktikum Lapangan ini agar kita dapat melihat secara langsung habitat dan spesies yang didapatkan di Pantai Baluran Banyuwangi. Sehingga dapat membantu para mahasiswa untuk lebih memahami mata kuliah ini dan mengenal langsung spesies yang diamati baik itu secara morfologi ataupun anatomi serta lebih mengenal habitat dari spesies yang diamati.

1.2  Tujuan Praktikum Lapang

 

  1. Mengetahui klasifikasi hewan avertebrata air yang di temukan.
  2. Untuk mempelajari dan mengenal organisme-organisme yang tergolong hewan-hewan invertebrata pada habitatnya masing-masing.
  3. Mengetahui gambaran tentang struktur tubuh hewan avertebrata air yang di temukan

1.3    Manfaat Praktikum Lapang 

Dangan diadakannya praktikum lapang ini para mahasiswa khususnya mahasiswa perikanan dapat  lebih mengetahui dan memahami hewan-hewan avertebrata air yang masih hidup dan segar. Apabila dalam praktikum di laboratorium kemungkinan  hewan yang diamati telah berubah morfologinya karena pengaruh pengawet, maka dengan adanya praktikum lapang ini yang dimanana para mahasiswa perikanan langsung terjun dalam lokasi pencarian, diharapkan para mahasiswa dapat mengamati hewan avertebrata air yang masih utuh dan segar secara langsung sehingga dapat mengidentifikasinya dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Phylum Protozoa

 

Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop (mikroskopis). Protozoa Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek.

Protozoa hidup di air (di tempat yang basah). Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari Kingdom Protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Ciri-ciri umum : Organisme uniseluler (bersel tunggal), Eukariotik (memiliki membran nukleus), Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok), heterotrof, Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup, Alat gerak berupa pseudopodia, silia, atau flagela. Ciri-ciri prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah.

Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan kelasnya yaitu Rhizopoda, Flagellata, Sporozoa, dan Ciliata. Peran menguntungkan protozoa antara lain Sumber makanan ikan, Di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton)  dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dll. Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral. Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok. Sedang peran merugikan Protozoa adalah Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak.

 

 

2.2 Phylum Porifera

 

Porifera dalam bahasa latin , porus artinya pori, sedangkan fer artinya membawa.Porifera adalah hewan multiseluler atau metazoa yang paling sederhana.Karena hewan ini memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori seperti busa tau spons sehinggaporifera disebut juga sebagai hewan spons.

Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada yang simetris radial. Bentuknya ada yang seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau bercabang seperti tumbuhan. Tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil atau pori (ostium). Permukaan luar tubuhnya tersusun dari sel-sel berbentuk pipih dan berdiding tebal yang disebut pinakosit. Pinakosit berfungsi sebagai pelindung.Diantara pinakosit terdapat pori-pori yang membentuk saluran air yang bermuara di spongosol atau rongga tubuh.Spongosol dilapisi oleh sel “berleher” yang memiliki flagelum, yang disebut koanosit.Flagelum yang bergerak pada koanosit berfungsi untuk membentuk aliran air saru arah sehingga air yang mengandung makanan dan oksigen masuk melalui pori ke spongosol.Di spongosol makanan ditelan secara fagositosis dan oksigen diserap secara difusi oleh koanosit.Sisa pembuangan dikeluarkan melalui lubang yang disebut oskulum.Zat makanan dan oksigen selain digunakan oleh koanosit, sebagian juga ditransfer secara difusi ke sel-sel yang selalu bergerak seperti amoeba, yaitu amoebosit (sel amoeboid).Fungsinya pun sama yaitu mengedarkan makan dan oksigen keseluruh sel-sel tubuh lainnya.

Porifera hidup secara heterotof.Makananya adalah bakteri dan plankton.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan.Pencernaan dilakukan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit.Habitat porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar, misalnya Haliciona dari kelas Demospongia. Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Berdasarkan bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan Calcarea (Calcisspongiae).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Bagian-bagian Porifera

 

2.3 Phylum Cnidaria

 

Cnidaria berasal dari bahasa Yunani cnide yang berarti senagat. Termasuk dalam phylum ini meliputi hidra, ubur-ubur, anemon, bunga karang, akar bahar,dan lain-lain. Cnidaria memiliki rongga pencernaan (gastrovascular cavity), dan mulut, namun anus tidak ada. Ciri khas Cnidaria adalah knidosit, yang merupakan sel terspesialisasi yang mereka pakai terutama untuk menangkap mangsa dan membela diri. Tubuh mereka terdiri atas mesoglea, suatu bahan tak hidup yang mirip jeli, terletak di antara dua lapisan epitelium yang biasanya setebal satusel. Mereka memiliki dua bentuk tubuh dasar: medusa yang berenang dan polipyang sesil, keduanya simetris radial dengan mulut dikelilingi oleh tentakel berknidosit. Kedua bentuk tersebut mempunyai satu lubang jalan masuk yang berfungsi sebagai mulut maupun anus yang disebut manus serta rongga tubuh yang digunakan untuk mencerna makanan dan bernapas. Banyak cnidaria memproduksi koloni yang meruapakan organisme tunggal terdiri atas zooidmirip medusa atau mirip polip atau keduanya. Kegiatan cnidaria dikoordinasikan oleh jaring-jaring saraf tak terpusat serta reseptor sederhana. Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya.

Beberapa Cubozoa dan Scyphozoa yang berenang bebas memiliki indera penyeimbang statokista dan ada yang punya ropalia, suatu struktur pengindera kompleks yang dapat termasuk mata pembentuk citra dengan lensa dan retina yang sederhana. Semua cnidaria berkembangbiak secara seksual. Banyak cnidaria memiliki daur hidup yang rumit dengan tingkat perkembangan polip aseksual dan medusa seksual, namun beberapa tidak memiliki polip atau tidak memiliki medusa.

Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana.  Ciri tubuh Coelenterata meliputi ukurang, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam.Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea.Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip.Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel).Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang.

Coelenterata merupakan hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis).Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan.Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenteron atau gastrosol.Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk kantong.Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh sel-sel gastrodermis.Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan ekstraseluler.Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan.Pencernaan di dalam sel gastrodermis disebut pencernaan intraseluler.Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi.Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara difusi.Coelenterata memiliki sistem saraf sederhana yang tersebar benrbentuk jala yang berfungsi mengendalikan gerakan dalam merespon rangsangan.

Sistem saraf terdapat pada mesoglea.Mesoglea adalah lapisan bukan sel yang terdapat diantara lapisan epidermis dan gastrodermis.Gastrodermis tersusun dari bahan gelatin. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut.Mulut dikelilingi oleh tentakel.Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki.Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan mengeluarkan sisa makanan karena Coelenterata tidak memiliki anus.Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut.Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas.Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat yang disebut nematokis (nematosista).

Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air. Reproduksi Coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual. Klasifikasi Coelenterata dibedakan dalam tiga kelas berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, Cubozoa dan Anthozoa.

 

 

 

2.4 Phylum Platyhelminthes

 

Platyhelminthes (dalam bahasa yunani, platy = pipih, helminthes = cacing) atau cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sedah lebih maju dibandingkan porifera dan Coelenterata.Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), yaitu ekstoderm, mesoderm, dan endoderm. Tubuh Platyhelminthes simetris bilateral dengan bentuk pipih. Diantara hewan simetris bilateral, Platyhelminthes memiliki tubuh yang paling sederhana. Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan aselomata.Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus). Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.

Platyhelminthes tidak memiliki sistem peredaran darah (sirkulasi). Platyhelminthes juga tidak memiliki sistem respirasi dan eksresi.Pernapasan dilakukan secara difusi oleh seluruh sel tubuhnya. Kelompok Platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf tangga tali. Sistem saraf tangga taki terdiri dari sepasang simpul saraf (ganglia) dengan sepasang tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti tangga. Organ reproduksi jantan (testis) dan organ betina (Ovarium). Platyhelminthes terdapat dalam satu individu sehingga disebut hewan hemafrodit. Alat reproduksi terdapat pada bagian ventral tubuh.

Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.  Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual.  Jenis Platyhelminthes dikelompokan menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda dan cestoda.

 

2.5 Phylum Rotifera

 

Rotifera adalah hewan bersel banyak (setiap spesies memiliki jumlah sel tertentu), bersifat mikroskopis. Hewan ini seringkali menempel di objek yang ada dalam air, dengan mempergunakan ”jari kaki”. Makanan rotifera berupa mikroorganisme yang ada dalam air. Disekitar mulut terdapat silia yang tersusun secara melingkar. Rotifera atau rotatoria terdapat di segala penjuru dunia,meskipun beberapa jenis terdapat pada tempat-tempat tertentu.Dari 1.700 spesies, kebanyakan hidup di air tawar,hanya 50 spesies di laut,beberapa di hamparan lumur lumut yang basah. Rotifera termasuk metazoan yang paling kecil berukuran antara 40-2.500 mikron, rata-rata 200 mikron. Umumnya hidup bebas, soliter, koloni, atau sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit pada insang crustacea, telur siput, cacing tanah, dan dalam ganggang jenis Vaucheria dan Volvox.Biasanyua transparan, beberapa berwarna cerah seperti seperti merah atau coklat disebabkan warna saluran pencernaan.

Tubuh rotifera dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian anterior yang pendek, badan yang besar dan kaki. Dibagian anterior terdapat corona dan mastax yang merupakan ciri khas filum Rotifera. Corona terdiri atas daerah sekitar mulut yang bercilia, dan cilia ini melebar di seputar tepi anterior hingga seperti bentuk mahkota. Gerakan cilia pada trochal disk..Mastax terletakantara mulut dan pharynx. Mastax ialah pharynx yang beretot yang berotot, bulat atau lonjong dan bagian dalamnya terdapat trophy, semacam rahang berkhitin. Trophi terdiri atas 7 buah gigi yang saling berhubungan.Mastax berfungsi untuk menangkap dan menggiling makanan, bentuknya beraneka asesuai dengan tipe kebiasaan makan rotifera.

Bentuk badan bulat atau selindris. Pada bagian badan(trunk) terdapat tiga buah tonjolan kecil yaitu sebuah atau sepasang antena dorsal dan 2 buah antena lateral. Pada unjung antena biasanya terdapat terdapat bulu-bulu sebagian alat indera. Semua rotifera dioecious. Reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil daripada betina, biasnya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rootifera biasanya dengan jalan”hypodermic impregnation”, dimana sperma masuk melalui dinding tubuh. Tiap nukleus pada ovari menjadi sebuah telur. 

Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar. Di satu pihak memakan serpihan-serpihan organic dan ganggang bersel satu, dilain pihak rotifera merupakan makan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing dan crustacea.

 

2.6 Phylum Rhyncocoela

 

Filum Rhynchocoela disebut Nemertea/ Nemertina. Bentuk tubuh panjang 2 cm - 2 m dan tidak beruas. Warna merah, jingga, kuning, hijau, dan ada juga yang bergaris-garis. Rhynchocoela ini memiliki proboscis (semacam belalai yang dapat dijulurkan untuk menangkap mangsa). Saluran pencernaan lengkap dan peredaran darah tertutup. Rhynchocoela apabila diganggu akan memotong sebagian tubuhnya, bagian anterior melakukan regenerasi, dan bagian probosicis yang putus dapat hidup kembali (Thiel, 1998).

Rhynchocoela hidup di laut, terdapat di pantai di bawah terumbu karang dan rumput laut. Beberapa spesies dari Rhynchocoela memiliki rhapdit di dalam probosisnya. Hal ini membuktikan bahwa Rhynchocoela merupakan phylum Platyhelminthes. SemuaRhynchocoela adalah carnivora yang terutama memakan cacing Anelida, Molusca danCrustasea kecil, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup (Kuris, 2007). Rhynchocoela dibagi menjadi dua kelas yaitu: Anopla dan Enopla.

 

2.7  Phylum Kinoryncha

Karakteristiknya:

  1. Tubuh bilateral simetris, dan menyerupai ulat (vermiforma)
  2. Tubuh memiliki lebih dari dua lapisan sel, jaringan dan organ
  3. Semua tinggal di laut
  4. Rongga tubuh adalah pseudocoel (semu, belum terbentuk sekat yang jelas)
  5. Saluran pencernaan terdiri atas usus dan anus
  6. Memiliki kutikula dan otot longitudinal
  7. Sistem syaraf dengan cincin syaraf anterior dan lengkung syaraf ganda
  8. Tidak memiliki sistem peredaran darah
  9.  Reproduksi seksual dan gonochoristik
  10. Memakan diatom dan detritus organis
  11. Memiliki 11 segmen

2.8 Phylum Nematoda

 

Cacing ini merupakan phylum dari Aschelminthes yang mempunyai jumlah species dan penyebaran terbesar. Disebut juga dengan ”round worm”. Berasal dari kata ”nema” yang berarti benang. Hidup bebas maupun sebagai parasit pada tanaman, binatang maupun manusia. Bentuk Nematoda panjang dan langsing, biasanya kedua ujungnya pipih. Sebagian besar dari jenis yang hidup bebas, terutama jenis air-tawar dan darat, panjangnya kurang dari 1 mm, kadang-kadang mikroskopis. Jenis laut dapat mencapai 5 cm. Ciri khasnya adalah bentuk tubuh yang silindris, relatif sempurna dan struktur mulut yang tersusun secara radial.

Tubuh Nematoda tidak dapat dibagi-bagi atas bagian-bagian yang jelas. Mulut terletak pada ujung anterior dan dikelilingi bibir serta sensory papilla atau bristle. Bibir dilengkapi tonjolan kutikula dari bentuk sederhana sampai bentuk seperti bulu. Bibir jenis carnivore dilengkap dengan gigi. Kutikula pada Nematoda lebih kompleks dari pada Aschelminthes yang lainnya dan terdiri dari beberapa jenis, serta memiliki susunan kimia dan struktur yang berbeda. Alat indera yang utama ialah papilla, bristle atau amphid. Labial papilla dan cephalic papilla adalah penonjolan kutikula yang berisi benang syaraf (nerve fiber) dari syaraf papilla. Sensory bristle biasanya terdapat dimana-mana pada permukaan tubuh. Beberapa jenis memiliki mata yang terletak pada sisi pharynx termasuk bentuk pigmencup dan lensa berasal dari kutikula.

Sistem reproduksi Nematoda termasuk dioecious, jantan lebih kecil dari betina, bagian ekor melengkung seperti kait. Ada juga jenis hermaphrodit dan parthenogenesis.  Nematoda hidup bebas,  umumnya carnivore dan memakan metazoa kecil termasuk nematoda lainnya. Ada pula jenis herbivore, terutama species laut dan memakan diatom serta ganggang. Banyak pula saprophagus, yaitu

memanfaatkan bahan organik seperti kotoran ternak, atau tanaman dan binatang yang membusuk. Amphid ialah navigasi dari kutikula yang buntu. Diduga fungsi amphid sebagai chemoreceptor.

 

2.8  Phylum Annelida

Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata).Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Ciri tubuh annelida meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh annelida yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia.Bentuk tubuhnya simetris bilateral dan bersegmen menyerupai cincin.

Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya.Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus.Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup.Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah.Pembuluh darah yang melingkari esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh.

Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali.Ganglia otak terletak di depan faring pada anterior.Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor.Nefridia ( tunggal – nefridium ) merupaka organ ekskresi yang terdiri dari saluran.Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh.Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh tempat kotoran keluar.Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya.

 Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia.Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap.Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet. Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi.Organ seksual annelida ada yang menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris). Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea.

 

2.10 Phylum Mollusca

 

Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak.Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang.Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi.Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur.Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cum-cumi raksasa.

Mollusca hidup secar heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan ataupun sisa-sisa organisme.Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat; Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit; simetri bilateral, tanpa ruas, umumnya memiliki kelenjar lendir; tubuh tertutup mantel yang menghasilkan cangkang, kaki ventral disesuaikan untuk merayap, meliang dan berenang; saluran pencernaan lengkap, mulut dilengkapi dengan radula dan deretan gigi. Mollusca bereproduksi secara seksual dan masing-masing organ seksual saling terpisah pada individu lain.Fertilisasi dilakukan secara internal dan eksternal untuk menghasilkan telur. Telur berkembang menjadi larva yang disebut trocophore yang berenang bebas dan memiliki sepasang mata (classis Amphineura, Classis Gastropoda primitif), velliger (Classis Gastropoda) mempunyai velum bersilia, mulai tumbuh kaki dan tentakel. Pada classis Bivalvia, telur menetas menjadi glochium sedangkan pada classis Cephalopoda telur menetas langsung menjadi juvenil. Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Molluska dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang, yaitu Gastropoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda.

Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama : Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Pada beberapa molluska kakinya ada yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulansebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi, dan anus.Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang.

Sistem saraf mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang melebar. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Ada pula yang memiliki rahang dan lidah pada mollusca tertentu. Lidah bergigi yang melengkung kebelakang disebut radula. Radula berfungsi untuk melumat makanan. Mollusca yang hidup di air bernapas dengan insang. Sedangkan yang hidup di darat tidak memiliki insang. Pernafasan dengan satu sampai beberapa lembar insang, Pertukaran udara mollusca dilakukan di rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi sebagai paru-paru. Organ ekskresinya berupa sepasang nefridia yang berperan sebagai ginjal; dan umumnya dioecious dan beberapa hermaprodit.

Umumnya mollusca menguntungkan bagi manusia, namun ada pula yang merugikan.Peran mollusca yang menguntungkan adalah sebagai sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu (Aemaea sp.), kerang   (Anadara sp.), kerang hijau (Mytilus viridis), Tridacna sp., sotong (Sepia sp.) cumi-cumi (Loligo sp.), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatina fulica). Perhiasan, misalnya tiram mutiara (Pinctada margaritifera). Hiasan dan kancing, misalnya dari cangkang tiram batu, Nautilus, dan tiram mutiara. Bahan baku teraso, misalnya cangkang Tridacna sp. Mollusca yang merugikan bagi manusia, misalnya bekicot dan keong sawah yang merupakan hama dari tanaman. Siput air adalah perantara cacing Fasciola hepatica. Phylum Mollusca dibagi menjadi lima classis yaitu Monoplacophora, Amphineura, Gastropoda, Bivalvia, dan Cephalopoda yang akan diuraikan sebagai berikut:

 

2.10.1 Classis Monoplacophora

 

Classis Monoplacophora ciri-cirinya memiliki cangkang simetri bilateral, pipih sampai kerucut dengan ukuran kecil, 3 cm. Memiliki insang 5-6 pasang unipectinate, bersifat dioecious, pembuahan diluar. Saluran pencernaan, mulut (dengan radula), perut, usus, anus dan memakan diatom, foraminifera dan spons.

 

2.10.2 Classis  Amphineura

 

Hewan ini semua hidup di laut dan banyak ditemukan di pantai. Kaki perut Amphineura melekat pada batu-batu. Pada rongga mantelnya terdapat insang. Di bagian dorsal, tubuhnya ditutupi mantel yang dilengkapi dengan 8 kepingan kapur. Kadang-kadang kepingan tersebut dilapisi kitin.

Anggota Classis Amphineura adalah mollusca primitif yang masih hidup. Kepala mengecil, mata dan tentakel menghilang. Kaki pipih dan melebar yang mudah melekat pada substrat, tubuh bilateral simetri pipih dorsoventral. Semua Classis  Amphineura herbivora. Sebagian besar pergerakannya di bagian ventral dan berfungsi sebagai alat penempel dan alat gerak. Contoh Amphineura yang banyak ditemukan adalah Chiton. Classis Polyplacophora diwakili oleh genus Chiton. Chiton dapat ditemukan menempel pada bebatuan di tepi pantai pada saat air laut surut. Chiton merupakan hewan pemakan ganggang. Hewan ini menggunakan radula untuk memotong serta mencerna makanannya.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Chiton

 

2.10.3 Classis Gastropoda

 

Gastropoda merupakan kelas Mollusca terbesar dan merupakan golongan paling berhasil menduduki berbagai habitat, yaitu dasar laut, perairan tawar, dan darat. Telah diketahui lebih dari 35.000 jenis yang masih hidup dan 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Hewan ini terdapat dalam berbagai habitat, baik di laut, di air tawar, maupun di darat. Cangkang Gastropoda seperti kerucut dari tabung yang melingkar, sumbu kerucut disebut colummela, puncak kerucut merupakan bagian tertua, bagian terbesar dan terbuka ialah apertura, yaitu tempat bersembunyinya kaki dan kepala. Bila apertura dihadapkan pada kita dan ujung (puncak) ke atas, posisi apertura disebelah kanan maka disebut dextral dan bila diposisi sebaliknya yaitu apertura disebelah kiri disebut sinistral.

Gastropoda memiliki sistem pencernaan makanan yang lengkap dan mulut yang dilengkapi struktur gigi yang disebut radula. Sebagian besar Gastropoda mempunyai sebuah cangkok (rumah) berbentuk kerucut terpilin (spiral). Cangkang ini berfungsi sebagai pelindung dari gangguan pemangsanya. Cangkang terdiri atas tiga lapisan, yaitu periostracum (semacam zat tanduk), lapisan prisma dan lapisan nacre (mutiara). Pada lapisan prisma CaCo3 tersusun dalam bentuk kristal vertikal, sedangkan lapisan narce terdiri atas beberapa lapisan tipis CaCo3 yang berkilau. Akan tetapi, ada juga Gastropoda yang tidak bercangkang, contohnya Kimax. Bentuk tubuhnya juga menyesuaikan diri dengan bentuk cangkok. Padahal, waktu larva bentuknya simetri bilateral. Jenis yang tidak bercangkok banyak yang hidup di darat dan biasanya disebut siput telanjang.

Torsi adalah peristiwa dimana cangkang beserta seluruh bagian tubuh dibelakang kepala, yaitu visceral, mantel dan rongga mantel memutar 1800. Torsi bukanlah suatu hipotesis evolusi, sebab dapat dibuktikan dari perkembangan embrio pada gastropoda hidup. Pada mulanya larva trocophore adalah simetri bilateral, kemudian pada stadium vellinger mengalami putaran. Akibat torsi semua cangkang gastropoda yang hidup pada masa kini asimetri.

Jenis kelamin Gastropoda adalah hermafrodit. Akan tetapi, tidak pernah terjadi pembuahan sendiri dan bertelur setelah perkawinan. Pada beberapa spesies, alat kelaminnya terpisah dan fertilisasi terjadi di dalam tubuh betina. Adapun pada beberapa spesies lainnya, perkembangan sel telur yang telah dibuahi terjadi di dalam induk betina. Gastropoda air bernapas dengan insang dan telurnya dilepas satu-satu atau berkelompok dalam zat semacam gelatin. Hidupnya terutama di laut dan telur menetas menjadi berbagai fase larva sebelum menjadi dewasa. Gastropoda mempunyai arti ekonomi yang penting.

 

2.10.3 Classis Bivalvia

 

Classis Bivalvia disebut pula Pelechypoda (karena memiliki insang berbentuk kampak) atau sering disebut juga Lamellibranchiata yang artinya memiliki insang berbentuk lamela atau lembaran). Pelecypoda adalah Mollusca yang mempunyai kaki berbentuk pipih seperti kapak untuk membuat lubang. Cangkoknya terdiri atas dua bagian yang dihubungkan dengan semacam engsel. Di dalam cangkok terdapat tubuhnya. Penampang melintang tubuh Pelecypoda dapat dilihat pada Gambar 8.33. Insang atau brankia berupa lembaran-lembaran lamel dan mantelnya menempel pada cangkok. Di tepi cangkok, mantel secara terus-menerus membentuk bagian cangkok yang baru sehingga cangkok makin lama makin besar. Di dalam rongga mantel terdapat insang. Berbagai jenis kerang dan remis hidup di dalam lumpur. Remis atau kerang yang seperti itu mempunyai sifon yang panjang. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Letak Sifon dan bagian – bagian Kerang

angkok atau rumah Pelecypoda terdiri atas tiga lapisan. Lapisan terluar disebut periostrakumdibentuk dari zat kitin, berfungsi sebagai lapisan pelindung. Lapisan kedua disebut lapisan prisma karena tersusun dari kristal-kristal kalsit berbentuk prisma. Lapisan ketiga disebutlapisan nakre atau lapisan induk mutiara yang tersusun dari lapisan-lapisan tipis paralel dari kalsit (karbonat). Di antara kristalkristal kalsit pada lapisan prisma maupun nakre, terdapat bahan organik yang membentuk kerangka tempat terbentuknya kristal tersebut. Untuk melihat bagian-bagian suatu cangkok, dapat dilihat dari gambar dibawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Penampang melintang cangkok dengan mantel

Di antara cangkok dan mantel kadang-kadang masuk benda asing seperti pasir. Butir pasir menjadi inti untuk pembentukan butir mutiara. Hanya jenis-jenis tertentu yang dapat menghasilkan mutiara berkualitas tinggi, yaitu tiram mutiara (Pinctada margaritifera) danPicntada mertensi. Kedua spesies ini merupakan penghuni laut bersuhu panas di daerah Pasifik, termasuk di Indonesia Bagian Timur. Mutiara juga dapat dihasilkan dengan cara memasukkan inti mutiara di antara mantel dan lapisan nakre.

 

2.10.5 Classis Cephalopoda

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Cephalopoda

Cephalopoda berasal dari kata cephalo yang artinya kepala dan podos yang artinya kaki. Cumi-cumi dan gurita adalah Cephalopoda yang cukup dikenal. Pada cumi-cumi, rangka dalam tubuhnya dihasilkan dari zat hasil sekresi internal oleh mantel. Adapun, gurita tidak memiliki rangka sama sekali. Cephalopoda memakan hewan-hewan kecil dan invertebrata lainnya. Di samping itu, semua anggotanya tidak memiliki cangkang, kecuali spesies Nautilus. Cephalopoda merupakan Mollusca dengan kepala yang jelas dan mata yang besar. Kaki otot dimodifikasi menjadi tangan, tentakel sekeliling mulut, dan corong yang merupakan saluran keluar dari rongga mantel. Pada Cephalopoda, kaki telah berevolusi menjadi lengan yang panjang dekat kepala. Cumi-cumi memiliki 10 lengan, sedangkan gurita memiliki 8 lengan. Cephalopoda menggunakan lengannya ini untuk menangkap mangsanya dan memasukkannya ke dalam mulut.

Semua Cephalopoda adalah karnivor. Dalam mulutnya, terdapat beberapa pasang struktur seperti gigi yang digunakan untuk menggigit dan merobek mangsanya. Sebagian besar Cephalopoda mempunyai kelenjar tinta. Pada kulit Cephalopoda mengandung kromatofor, yaitu pigmen yang memungkinkan tubuhnya berubah warna. Cephalopoda mempunyai peran yang cukup penting dalam ekosistem. Mereka merupakan mata rantai penting dalam jaring makanan pada ekosistem laut. Berbagai ikan memangsa cumi-cumi sebagai sumber makanannya. Selain itu, cumi-cumi dan sotong merupakan makanan laut yang digemari manusia.

2.11 Phylum Arthropoda

 

Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya. Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Hewan ini disebut sebagai arthropoda karena kakinya beruas - ruas. Arthropoda merupakan philum yang spesiesnya paling banyak.

Ciri umum arthropoda adalah : Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.Pada tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas.Segmen bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu Kaput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut). Ciri lain dari Arthropoda adalah adanya kutikula keras yang membentuk rangka luar (eksoskeleton).Eksoskeleton tersusun dari kitin yang di sekresikan oleh sel kulit.Eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh yang kuat.
Eksoskeleton terdiri dari lempengan-lempengan yang dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak.Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikuti pertumbuhan tubuh.Oleh karena itu, tahap pertumbuhan Arthropoda selalu diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton baru.Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis.Hewan yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-laba. Sistem saraf Arthropoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya. Pada berbagai tempat di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia.Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia bagian anterior yang lebih besar berfungsi sebagai otak. Sistem pencernaan Arthropoda terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulutnya dilangkapi dengan berbagai alat tambahan yang beragam, misalnya mandibula dan maksila pada belalang. Arthropoda bernapas dengan insang, trakea, atau paru-paru buku.Sisa metabolisme berupa cairan dikeluarkan oleh organ ekskresi yang disebut saluran/tubula Malpighi, kelenjar ekskresi, atau keduanya.Sistem sirkulasi Arthropoda bersifat terbuka.Sistem sirkulasi terdiri dari jantung, pembuluh darah pendek, dan ruang disekitar organ tubuh yang disebut sinus atau hemosol.Darah Arthropoda disebut juga hemolimfa.

Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit, komensal, atau simbiotik.Dilingkungan kita, sering dijumpai kelompok hewan ini, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah. Habitat penyebaran Arthropoda sangat luas.Ada yang di laut, periran tawar, gurun pasir, dan padang rumput. Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis. Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing-masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah dua).Hasil fertilisasi berupa telur.

Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan diuraikan empat kelas diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea, dan Insecta.

 

2.12 Phylum Crustacea

 

Keberadaan crustacea sekitar 40.000 species yang telah berhasil diidentifikasi. Kelompok hewan ini telah dikenal luas seperti jenis-jenis copepoda, udang, dan kepiting. Crustacea memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari ukuran 0,1 cm hingga mencapai 60 cm dengan berbagai bentuk yang berupa bulat hingga yang berbentuk panjang. Habitatnya sebagian besar di air laut, dan hanya 3% menjadi hewan darat sementara 13% menempati wilayah perairan tawar. Sebagian besar crustacea sebagai plantonis dan sebagian menjadi hewan bentik baik sebagai species intestisial maupun mikroskopis, namun ada juga yang bersifat parasit.

Tubuh crustacea dapat dibedakan menjadi kepala, thorax dan abdomen. Istilah somite, metamere, atau body segmen kadangkala digunakan untuk  menyatakan ruas tubuhnya. Tiap ruas crustacea memiliki sepasang apendiks (anggota badan) yang  biramus dan jumlahnya banyak. Pada bagian kepala secara berturut-turut dari bagian anterior ke posterior terdapat antena pertama (antennule), sepasang antena kedua (antenna), sepasang mandibel yang mengapit mulut atau menutupi bagian ventral mulut, selanjutnya adalah sepasang maksila (maxilla) kedua.

Kutikula secara umum menyelimuti seluruh bagian tubuh crustacea yang mengandung kapur. Pada epikula maupun prokutikula terdapat endapan garam-garam kalsium. Protikula terdiri atas 3 lapisan, lapisan terluar berupa lapisan tipis yang mengandung pigmen dan kapur, pada lapisan kedua yang lebih tebal berisi khitin yang tidak berwarna dan zat kapur, pada lapisan terdalam, lapisan yang tipis ini mengandung zat kapur dan tidak berwarna. Pada beberapa crustacea molting terjadi seumur hidup namun ada pula yang berhenti setelah dewasa pada ukuran tertentu dan setelah mencapai instar tertentu.

Sifat makan pada jenis crustacea memiliki berbagai macam antara lain sebagai filter feeder, scavenger (pemakan bangkai) herbivora, karnivora atau parasit. Pada jenis crustacea pemakan bangkai, herbivora atau karnivora memiliki apendiks ruas-ruas anterior atau apendiks thorax yang fungsinya untuk memegang, menggigit dan menggiling makanan.

Peredaran darah pada crustacea pada entomostraca adakalanya tidak terdapat jantung atau arteri, atau kedua-duanya. Pada umumnya crustacea bernafas denagn insang, pada crustacea kecil yang tidakmemiliki insang bernafas dengan seluruh permukaan tubuh. Organ ekskresi pada crustacea berupa sepasang kelenjar antena dan kelenjar maksila. Sebagian besar crustacea bersifat dioecious. Crustacea terbagi menjadi beberapa classis yaitu Classis Cephalocarida, Classis Branchiopoda,  Classis Branchiura, Classis Copepoda, Classis Ostracoda, Classis Cirripedia, Classis Malacostraca.

 

2.5 Phylum Echinodermata

 

Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Ciri tubuh Echinodermata meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.  Bentuk tubuh Echinodermata ada yang seperti bintang, bulat, pipih, bulat memanjang, dan seperti tumbuhan. Tubuh terdiri dari bagian oral (yang memiliki mulut) dan Aboral (yang tidak memiliki mulut).

Phylum Echinodermata ditempatkan pada akhir deretan phyla dalm bahasan avertebrata, karena tidak nampak memiliki hubungan kekerabatan dengan avertebrata lainnya.

Permukaan Echinodermata umumnya berduri, baik itu pendek tumpul atau runcing panjang.Duri berpangkal pada suatu lempeng kalsium karbonat yang disebut testa. Sistem saluran air dalam rongga tubuhnya disebut ambulakral. Ambulakral berfungsi untuk mengatur pergerakan bagian yang menjulur keluar tubuh, yaitu kaki ambulakral atau kaki tabung ambulakral.Kaki ambulakral memiliki alat isap.sistem pencernaan terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Sistem ekskresi tidak ada.Pertukaran gas terjadi melalui insang kecil yang merupakan pemanjangan kulit.Sistem sirkulasi belum berkembang baik.Echinodermata melakukan respirasi dan makan pada selom.Sistem saraf Echinodermata terdiri dari cincin pusat saraf dan cabang saraf.Echinodermata tidak memiliki otak.Untuk reproduksi Echinodermata ada yang bersifat hermafrodit dan dioseus.

Echinodermata merupakan hewan yang hidup bebas. Makanannya adalah kerang, plankton, dan organisme yang mati.Habitatnya di dasar air laut, di daerah pantai hingga laut dalam. Echinodermata bersifat dioseus bersaluran reproduksi sederhana.Fertilisasi berlangsung secara eksternal.Zigot berkembang menjadi larva yang simetris bilateral bersilia.Hewan ini juga dapat beregenerasi.

Echinodermata dikelompokkan menjadi lima kelas, yaitu Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea, Holothuroidea, dan Crinoidea. Echinodermata dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan, Bahan penelitian mengenai fertilisasi dan perkembangan awal.Para ilmuwan biologi sering mengggunakan gamet dan embrio landak laut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1 Tempat dan Waktu Praktikum

Hari/ Tanggal       :  Sabtu / 28 April 2012

Waktu                  :  Pukul 13.30 – 16.00

Tempat                 :  Taman Nasional Baluran, Situbondo Jawa Timur

 

3.2 Metode Praktikum

3.2.1 Alat dan Bahan Praktikum

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

  • Jaring
  • Ember atau Timba
  • Toples plastik
  • Plastik
  • Kacamata Renang
  • Sepatu Boat
  • Formalin
  • Jaring atau cerok
  • Organisme yang diperoleh dari perairan laut
  • Kamera digital

3.2.2 Prosedur Kerja (Cara Kerja)

Prosedur kerja praktikum lapang Avertebrata Air ini dilakukan dengan cara penerjunan dan pencarian hewan Avertebrata Air secara langsung oleh praktikan di bibir pantai dengan menunggu saat air laut sedang surut.

Prosedur pelaksanaan :

 

 

 

  1. 1.        Persiapan
  • Tunggu air laut hingga surut (diatas jam 12 siang).
  • Menyiapkan alat yang diperlukan saat praktikum dan memastikan bahwa peralatan yang digunakan masih berfungsi normal, seperti Siapkan jaring dan beberapa plastik Bawa ember/timba.
  • Mendengarkan instruksi dan arahan dari asisten / dosen pendamping.
  • Pakai sepatu boot untuk keamanan.
  1. 2.        Pengambilan Biota
  • Penerjunan dan pencarian hewan avertebrata air secara langsung di pantai.
  • Mengambil hewan Avertebrata Air yang di dapat dengan menggunakan jaring atau cerok dan masukkan ke dalam kantung plastik atau toples plastik.
  • Mengumpulkan beberapa plastik yang telah berisi hewan avertebrata air dan masukkan ke dalam timba/ember.
  • Bawa timba/ember ke tepi.
  • Melakukan penggolongan hewan avertebrata air yang telah di dapat ke dalam beberapa toples.
  • Mengambil gambar specimen dengan kamera digital.
  • Memberi formalin untuk mengawetkan.
  • Untuk specimen yang banyak ditemukan  dikembalikan kehabitat semula atau dasar laut oleh masimg-masing kelompok.
  • Pengidentifikasian biota dilakukan di laboratorium Basah FPK UNAIR pada hari Rabu 6 Mei 2012.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 

 

4.1 Gamban Umum Lokasi Praktikum Lapang

 

Taman Nasional Baluran ditunjuk sebagai taman nasional sejak tahun 1980 dengan luas wilayahnya sekitar 25.000 ha wilayah daratan 3.750 Ha wilayah perairan wilayah daratan 3.750 Ha wilayah perairan. Secara administratif pemerintahan termasuk Kabupaten Situbondo Propinsi dati I Jawa Timur. Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu Hutan Mangrove, Hutan Pantai, Hutan Payau/Rawa, Hutan Savana dan Hutan Musim (dataran tinggi dan dataran rendah). Pada bagian tengah dari kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Kawasan perairan memiliki berbagai keanekaragaman hayati. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran yang terletak Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Daerah perairan Taman Nasional Baluran sangat berpotensi guna dikembangkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Pintu gerbang masuk Taman Nasional Baluran terletak dipinggir jalan raya Surabaya – Ketapang Banyuwangi, tepatnya di desa kecil Wonorejo – Batangan, sebuah desa yang terletak di kecamatan Situbondo dibawah kaki gunung Merapi Jawa Timur dan ditepi sungai Bajulmati. Pos bekol terletak sekitar 12 km dari pintu gerbang Batangan, dijantung taman nasional yang hampir 40% kawasannya dikelilingi oleh padang rumput savana dan terletak dikaki Gunung Baluran. Di Bekol terdapat fasilitas tower pengamatan satwa liar seperti banteng, rusa, burung merak, burung rangkong, kangkareng dan lain-lain.

Taman Nasional Baluran merupakan Unit Pelaksanaan Teknis dari Direktorat Jemdral perlindungan hutan dan Pelestarian alam departemen kehutanan. Taman Nasional Baluran Terletak diantara  114o18- 114o 27 bujur timur dan 7o 45 - 7o 57 lintang selatan . Keadaan topografi bervariasi dari datar sampai berbukit-bukit dengan puncak tertinggi G. Baluran (1.247 m dpl) yang sudah tidak aktif lagi. Ketinggian tempat antara 0-1.247 m, iklimnya bertipe Monsoon dengan curah hujan antara 900-1.600 mm/tahun dan suhu udara antara 27 - 34 derajat Celcius. Memiliki padang savana alamiah ( 40% dari luas kawasan), hutan mangrove, pantai, payau/rawa dan musim. Daerah ini terletak di ujung timur Pulau Jawa. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati dan sebelah barat berbatasan dengan Sungai Kelokoran.

Terdapat 155 jenis burung yang sudah langka antara lain Walet ekor jarum (Hirundapus caudutus), Banteng (Bos javanicus), Ajag (Cuon alpinus), Kijang (Muntiacus muntjak), Burung merak (Pavo muticus), Ayam hutan (Gallus sp.), Macan tutul (Felis pardus), Kucing bakau (Felis viverrina) dan lain-lain. Tumbuhan yang ada di taman nasional ini sebanyak 444 jenis, diantaranya terdapat tumbuhan asli yang khas dan menarik yaitu widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), mimba (Azadirachta indica), dan pilang (Acacia leucophloea). Widoro bukol, mimba, dan pilang merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering (masih kelihatan hijau), walaupun tumbuhan lainnya sudah layu dan mengering.

Tumbuhan yang lain seperti asam (Tamarindus indica), gadung (Dioscorea hispida), kemiri (Aleurites moluccana), gebang (Corypha utan), api-api (Avicennia sp.), kendal (Cordia obliqua), manting (Syzygium polyanthum), dan kepuh (Sterculia foetida). Terdapat 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Satwa banteng merupakan maskot/ciri khas dari Taman Nasional Baluran. Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung diantaranya termasuk yang langka seperti layang-layang api (Hirundo rustica), tuwuk/tuwur asia (Eudynamys scolopacea), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan merah (Gallus gallus), kangkareng (Anthracoceros convecus), rangkong (Buceros rhinoceros), dan bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus).

Selain pesona daratannya, Baluran juga memiliki potensi wisata laut yang sangat besar. Banyak pantai-pantai yang bisa dijadikan lokasi diving seperti pantai Bama, Kajang, Bilik, Simacan, Lempuyang, dan Air Karang. Terumbu karang yang ada di perairan Baluran sangat beraneka ragam, namun untuk jenisnya secara umum memiliki banyak kesamaan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Kondisi alam yang terisolasi menjadikan panta-pantai yang ada disana tidak terlalu kotor, bahkan masih sangat bersih dibanding pantai lain di Indonesia. Indonesia memang menyimpan banyak mutiara, namun sedikit sekali yang kita ketahui.

     Gambar 6. Suasana Taman Nasional Baluran Gambar 7. vegetasi Taman Nasiona Baluran

Gambar 8.  Pantai Bama Situbondo, Jawa Timur

 

4.2 Biota Yang Ditemukan

4.2.1 Cnidaria ( Coelenterata )

 

 

 

 

 

 

  1. 1.    Tubipora musicalis

 

 

 

 

 

         

 

 

 

Gambar 8. Tubipora musica

Klasifikasi

Filum        : Coelenterata

Kelas        : Anthozoa

Sub kelas: Octocorallia

Ordo         : Alcyonaria

Famili       : Tubiporidae

Genus       : Tubipora

Spesies     : Tubipora musica

 

Diskripsi

Tubipora musicalis adalah karang lunak tapi dengan kerangka, memiliki skeleton yang tersusun dari spicula berbahan CaCO3, spicula tersusun rapat sehingga membentuk pipa yang bercabang-cabang seperti tabung. Pada setiap tabung adalah serangkaian polip yang masing-masing memiliki delapan bulu-seperti tentakel. Ini tentakel biasanya diperpanjang pada siang hari, tetapi dengan cepat akan menarik diri dengan segala macam gangguan. Kerangka adalah warna merah terang, tetapi biasanya dikaburkan oleh polip banyak, yang berwarna hijau atau abu-abu dalam warna. Dalam ukuran, koloni bisa mencapai satu meter di seberang, sedangkan polip individu biasanya kurang dari 3 mm lebar dan beberapa mm panjang.

Hanya memiliki bentuk polyp. Pipa-pipa merah khas berisi karang polip yang, seperti karang lainnya, memiliki ganggang yang hidup (zooxanthellae) mikroskopis dalam jaringan mereka. Melalui fotosintesis , ini simbiosis alga menghasilkan energi yang kaya molekul bahwa karang polip dapat digunakan sebagai nutrisi. Sebagai imbalannya, karang menyediakan ganggang dengan perlindungan dan akses terhadap sinar matahari. Selain itu, organ pipa karang dapat menangkap plankton dan partikel organik dari air dengan menggunakan tentakel mereka berbulu. Mulut terletak datar dan dihubungkan dengan rongga pencernaan oleh bagian yang disebut stomodeum. Rongga pencernaan terbagi-bagi oleh adanya sekat radialis. Hidup berkoloni dengan cara gemmatio ke samping, sehingga terjadi bentuk menyerupai pohon.

Hidup di laut dan melekat pada dasar laut. Organ karang pipa dibatasi untuk perairan dangkal, dan cenderung ditemukan di daerah terlindung. Ini adalah spesies umum di lereng terumbu, tapi tidak mencolok. Biasa untuk digunakan sebagai hiasan pada akuarium.

  1. 2.    Acropora sp

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Acropora sp

 

Klasifikasi

Filum        : Coelenterata

Kelas        : Anthozoa

Ordo         : Madrepora

Famili       : Acroporidae

Genus       : Acropora

Spesies     : Acropora sp

 

Diskripsi

Acropora merupakan tipe submatif dengan bentuk percabangan seperti gadah dan kokoh dengan warna kerangka putih tulang. Terletak pada kedalaman 3 sampai 15 m. Ciri – ciri koloni bisa mencapai 2 m luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama. Warna Acropora abu – abu muda, kadang coklat muda atau krem. Makanannya Rotifera, plankton dan zooxantella. Hidup berkoloni padat di perairan dangkal lautan. Bersifat hermaprodit dan dieocious. Populasinya banyak ditemukan dari pulau panjang indonesia, Okinawa, Jepang, Karibia, Solomon, Australia, dan Papua New Guinea. Habitatnya terletak pada Reef Slope bagian atas, perairan keruh dan laguna berpasir. Reproduksinya secara seksual dan aseksual. Reproduksi seksual Acropora diberbagai belahan dunia menumbuhkan variasi waktu spawning yang berbeda – beda, dan ditambah lagi dengan pematangan gonad yang berselisih waktu, terkadang ovum lebih dahulu matang daripada sperma ( dioceous ). Pada hermaprodit, melepaskan gamet ( telur-sperma ) dalam satu paket kesatuan. Sedangkan secara aseksual membentuk tunas muda koloni Acropora baru.

 

4.2.2 Echinodermata

  1. 1.    Teripang Pasir atau Sand Sea Cucumber ( Holothuria scabra ) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ganbar 10. Holothuria scabra

 

Menurut Radiopoetra (2005) klasifikasi dari Teripang (Holothuria scabra) adalah sebagai berikut :Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :